Salam dalam Kasih Kristus,
Raja Hizkia adalah satu dari orang-orang terbaik yang pernah hidup. Dia melakukan segala sesuatu dengan benar. Alkitab tidak mengatakan sesuatu yang jahat tentang dia.
Pada zamannya, dia memimpin bangsa itu untuk merayakan Paskah terbaik yang mereka peringati setelah berabad-abad.
Tidak ada seberkas pun bukti bahwa dia tidak akan memperoleh satu tempat di kerajaan Allah yang kekal, bila kebangkitan tiba pada kedatangan Kristus yang kedua (“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit,” 1 Tes. 4:16).
Tetapi ketika dia dibangkitkan, dia akan harus mempelajari tentang sejarah yang menyusul masanya. Wahyu 21:4 tidak mengatakan bahwa tidak akan ada air mata pada pagi kebangkitan – tidak akan ada air mata di bumi yang baru.
Ketika Hizkia baru berusia 49 tahun, Tuhan mengirimkan kepadanya satu pesan melalui nabi Yesaya bahwa dia harus “[Menyampaikan] pesan terakhir kepada keluargamu,” karena waktunya telah tiba di dalam hikmat Tuhan yang tak terhingga bahwa dia akan mati (2 Raja 20:1).
Tetapi kali ini raja yang baik itu memberontak melawan kehendak Tuhan, mengarahkan mukanya ke tembok untuk menangis, dia berkata kepada Tuhan bahwa ini tidaklah adil – dia sudah berusaha menjadi raja yang baik, dsb. Jadi Tuhan menambahkan 15 tahun baginya untuk hidup.
Selama waktu yang ditambahkan oleh kasih karunia itu, dia memperoleh seorang anak, Manasye, yang menjadi raja terburuk yang pernah dimiliki bangsa itu. Adalah bijaksana bagi Hizkia bila ketika Tuhan berkata, “Saatnya telah tiba bagimu untuk mati,” dia menjawab, “Amin, Tuhan! Aku percaya kepada-Mu. Jadilah kehendak-Mu” (lihat kisahnya di dalam Yesaya 38:1-3).
Firman Tuhan, bahkan bila tiba dengan kekecewaan, selalu adalah perkataan kasih yang Tuhan miliki bagi kita. Semoga Dia memberikan kepada kita kasih karunia yang jauh lebih berlimpah ini untuk mempercayainya.
Bila, oleh kasih karunia itu, Dia memperpanjang umur kita, semoga kita menggunakannya untuk kemuliaan-Nya. Maka kita akan berbahagia di pagi kebangkitan itu.
Dari Dial Daily Bread 22 Juli 2008 Oleh Robert J. Wieland Diterjemahkan oleh Danny Handoko
|